Ada saat-saat gw merasa, gw udah cukup dewasa dalam menghadapi masalah. Banyak lho orang yang bilang, kalo cara gw menyelesaikan masalah itu nggak seperti layaknya orang-orang seumuran gw...
Hmm.... Entah kenapa, sekarang gw sendiri udah lupa, diri gw yang seperti apakah yang orang sebut "dewasa" itu?
Kalau mau dirunut, mungkin kembali ke masa awal-awal masuk kuliah ya. Waktu SMA, waktu kayaknya berjalan gitu aja, cuma untuk belajar-belajar-belajar. Entah harus nyesel atau nggak. Dalam beberapa hal, gw sangat bersyukur sih bisa masuk sana. Banyak banget dapet pelajaran yang berharga. Tapi banyak juga masalah kehidupan lainnya yang tertinggal. Ketika masuk kuliah, dunia gw otomatis berganti. Dan di sana gw jadi menghadapi banyak masalah yang sebelumnya belum pernah gw hadapi.
Dari sana, awalnya gw jadi lebih mengerti diri sendiri. Ternyata teori yang selama ini ada di otak gw itu nggak bisa diterapkan ketika gw menghadapi masalahnya langsung. Di awal-awal inilah, seperti yang gw bilang di atas, cara gw menyelesaikan masalah itu disebut orang "dewasa".
Tetapi, semakin gw menghadapi masalah yang sama dalam skala yang semakin berat, kenapa akhirnya gw jadi merasa semakin kekanak-kanakan ya?
Oke, sebelumnya, mari mendefinikan "kedewasaan". Apa ya kedewasaan itu?
Menurut gw, dewasa artinya bisa mengambil keputusan yang bijaksana. Orang yang dewasa bisa berpikir secara logis, profesional, bisa menekan ego dan perasaan demi kebaikan. Orang yang dewasa juga tau bagaimana harus bertindak dalam suatu keadaan tertentu, tau kapan harus berjuang lebih keras tapi juga tau kapan harus mundur dan menerima kekalahan dengan hati lapang.
Gw rasa definisi gw itu masih kurang... Tapi, berangkat dari definisi di atas pun, gw merasa semakin lama gw malah semakin mengalami kemunduran.
Kenapa ya, belakangan ini gw semakin sulit menerima kekalahan? Kenapa dulu gw bisa lebih berhati lapang dan menekan perasaan?
Mengenai masalah yang sedang gw hadapi sekarang juga, ada sebuah "solusi" yang menurut gw bisa menyelesaikan masalah dan membuka dunia gw pada hal-hal yang baru. Tapi, kalo mau dipikir dua kali, apa iya ini "solusi"? Atau hanya sekedar "lari dari masalah"?
If only there were someone whom I can trust and his/her maturity is undoubted, I could just ask him/her what I'm going through!